twitter

Sekolah Kuliner dan D3 Perhotelan

Surabaya - Graha Tristar
Jln. Raya Jemursari 244 Surabaya.
D3 Tataboga, Perhotelan & Pariwisata

West Campus - Gedung IEU
Raya Dukuh Kupang 157B
S1 International Culinary Business

Kampus B Tristar -
Jl. Kaliwaron 58-60, Surabaya
D3 Tataboga, Perhotelan & Pariwisata
S1 Culinary Business

Informasi
Telp. +62-31 8433224 & 8433225. HP. 08233752227 - 081234506326.
PIN BB: 2A6A1F4E - 2B425821

Jakarta - Kampus Tristar BSD
S1 Culinary Business
S1 Food Technology
S1 Hotel Management
Telp: 021-5380668.
HP: 081286358533. PIN BB: 2A96E298.
Fax: 021-53155652.
Ruko BSD Sektor 7. Blok RL 31-33.
Serpong - Tangerang

Resep Kreasi Mahasiswa
Akpar Majapahit

Pages

Rabu, 03 Desember 2014

Hasil Kunjungan Kerja Ir Juwono Saroso bersama Kadin Jatim ke Papua - Undang Putra Daerah Belajar Culinary, Usaha Pariwisata dan Perhotelan di Akpar Majapahit



Hasil Kunjungan Kerja Ir Juwono Saroso bersama Kadin Jatim ke Papua

Undang Putra Daerah Belajar Culinary, Usaha Pariwisata dan Perhotelan di Akpar Majapahit

Presdir Matoa Holding yang menaungi jaringan bisnis Akpar Majapahit, Tristar Culinary Institute (TCI), distributor peralatan culinary dan pastry  serta pengelola sejumlah café & resto di Surabaya bersama 29 pengusaha anggota Kadin Jatim baru pulang dari Provinsi paling Timur di Indonesia, yakni Papua untuk menjajaki peluang pasar di sana. Berikut  hasil kunjungan bisnisnya selama empat hari mulai 28-31 Oktober 2014, disajikan dalam tulisan di bawah ini.

KADIN Jatim dan anggotanya tiada henti melakukan terobosan sekaligus mencari peluang usaha demi memperluas pasar. Setelah sukses menjajaki peluang bisnis di Batam dan Singapura, belum lama ini, sekarang giliran Kadin Jatim bersama 30 pengusaha asal Jatim menjajaki peluang bisnis di Provinsi Papua.

Akhir Oktober 2014 lalu rombongan pengusaha yang dipimpin Diar Kusuma Putra dari Kadin Jatim bertolak ke Papua. Di antara rombongan 30 pengusaha asal Jatim yang berangkat ke Papua itu salah satunya adalah Presdir Matoa Holding Ir Juwono Saroso.

30 pengusaha asal Jatim itu bergerak di lini usaha packaging (UD  Tri Tunggal Plastic), produk snack Syafrida, pemasok ayam beku PT Darbe, distributor bawang merah UD  Ole Olang Probolinggo, Barokah, Gabungan Perusahaan Rokok (Gapero) Surabaya, pedagang pasar induk Puspa Agro (Flora Multi Agro), pemasok sayur dan buah segar Indo Fresh, produsen aneka rajutan tas dan taplak UD Nusantara, usaha pariwisata Niki Tour & Travel Services, pendidikan culinary, pastry dan pariwisata Tristar Institute.

Salah satu misi ke Papu adalah menindaklanjuti masukan Gubernur Jatim Soekarwo, bahwa membuka pasar baru bagi produk unggulan Jatim itu tidak harus disikapi dengan melakukan ekspor ke mancanegara, tetapi memperkuat pasar domestik seperti ke Batam, Papua (Indonesia Timur) juga berdampak positif demi mengamankan pasar dalam negeri dari serbuan barang-barang impor.
Dari hasil sharing dengan pengusaha dari Kadin Papua, terungkap bahwa Papua siap untuk menyuplai kulit buaya yang berkualitas namun harganya murah untuk memenuhi kebutuhan bahan baku industry kulit (tas dan sepatu) di Jatim. Papua juga sanggup menyuplai buah merah (Pandanus conoideus Lam.) dari Wamena dan sarang semut untuk jamu karena dua komoditas andalan Papua tersebut punya khasiat bagi kesehatan.

Sebaliknya, pengusaha Papua antara lain tertarik untuk membuka pendidikan kuliner seperti di Jatim, mereka juga ingin adanya standarisasi restoran seperti di Jawa. Pasar Papua juga masih sangat terbuka bagi produk sayur dan buah-buahan segar dari Jatim.

Untuk membuka pendidikan culinary dan pastry di Papua, menurut Juwono Saroso bukan hal yang mudah karena pendidikan kuliner biayanya tidak murah dan pengajarnya terbatas. Namun kendala itu bisa disiasati dengan mengirimkan pelajar atau mahasiswa kuliah di Surabaya dalam program beasiswa. Jika mereka nanti lulus diharapkan kembali ke daerah asal untuk mendidik putra daerah di bidang kuliner.

Beasiswa Pendidikan

Sejauh ini, ada beberapa mahasiswa asal Papua yang menimba ilmu di Akpar Majapahit. Mereka belajar culinary, pastry, usaha pariwisata dan manajemen bisnis perhotelan. Biaya kuliah mahasiswa itu murni atas biaya sendiri dan belum tersentuh program beasiswa pendidikan dari pemerintah daerah asalnya.

Selain itu, Tristar Culinary Institute (TCI) –jaringan usaha Matoa Holding—juga telah dipercaya beberapa perusahaan multinasional di Papua, seperti Freeport untuk mengajarkan masakan Eropa kepada beberapa juru masak yang bekerja di perusahaan tambang emas tersebut. ”Oleh karena itu, kami selalu terbuka dengan Pemprov Papua yang mengirimkan pegawainya belajar kuliner di Surabaya,” ujar Juwono.

Sebelum kembali ke Surabaya, rombongan pengusaha dari Jatim ini menyempatkan diri pelesir ke Danau Sentani, jaraknya sekitar 50 kilometer dari Jayapura, dengan ketinggian 75 meter di atas permukaan laut (dpl).
”Objek wisata di danau itu masih alami, belum banyak tersentuh pembangunan infrastruktur yang mendukung industri pariwisata. Namun demikian, keberadaan hotel, tempat penginapan dan restoran di sekitar Danau Sentani dinilai cukup memadai,” tutur Juwono Saroso di ruang kerjanya, kemarin.

Dalam kesempatan itu, Kadin Jatim menargetkan pendapatan Rp 40 miliar dari pertemuan kemitraan Business to Business (B2B) dengan Kadin Papua dalam penawaran kerja sama kurang lebih 60 bidang usaha dari berbagai sektor.

Wakil Ketua Kadin Jawa Timur Bidang Pengembangan Jaringan Usaha antar Provinsi, Diar Kusuma Putra mengatakan, untuk mencapai target tersebut, kadin Jawa Timur akan membuka Kantor Perdagangan Perwakilan Jawa Timur di Jayapura. ”Kerjasama B2B telah dilakukan Kadin Jatim dengan 25 daerah lainnya di Indonesia. Hasilnya luar biasa, perdagangan antar pulau atau perdagangan domestik Jawa Timur terus meningkat, dan saat ini nilai mencapai Rp  4 triliun,” jelasnya.

Kadin Jatim memilih Kadin Papua dalam kerja sama ini karena potensi alam di Papua sangat kaya tetapi pengelolaannya kurang maksimal. Dari sejumlah bidang usaha yang ditawarkan, permintaan paling tinggi adalah bidang usaha packaging,  karena usaha yang satu ini cukup praktis. Ketua Kadin Papua, Adolf Asmuruf menambahkan, keterbukaannya kerjasama B2B dijalin di tanah Papua. Apalagi akan ada kantor perwakilan Kadin Jatim di Jayapura.

Dalam pertemuan B2B kali ini dihadiri lebih dari 400 pengusaha di Papua, baik usaha kecil, mikro maupun besar dan ini telah melampaui dari target yang direncanakan sebelumnya yang hanya menargetkan 150 pengusaha. ”Animo pengusaha Papua untuk datang pada kegiatan B2B kali ini cukup tinggi. Kami juga akan mengatur MoU tentang perdagangan antara Papua dan Jawa Timur nantinya,” papar Asmuruf.

Kadin Papua mengklaim saat ini ada beberapa kerja sama B2B yang telah dijalankan, salah satunya adalah perdagangan antarnegara di Marketing Point yang terletak di Skouw-Wutung, Kota Jayapura dan beberapa investor asing. “Kami tetap membuka lebar investor masuk ke tanah Papua dan kami jamin keamanan di daerah ini,” pungkasnya. (ahn)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar